Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) masih menyoroti kekhawatiran pasar modal menyusul usulan MSCI untuk mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Sentimen tersebut membuat harga saham-saham di lantai Bursa Efek Indoenesia (BEI) berguguran dengan harga yang murah.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir mengingatkan investor agar tidak menjadikan penurunan harga saham sebagai satu-satunya alasan untuk membeli suatu emiten.
Menurutnya, investor perlu memperhatikan kemampuan perusahaan menghasilkan laba, pertumbuhan bisnis, arus kas, tingkat utang, serta kualitas tata kelola sebelum mengambil keputusan investasi.
"Jadi ada profitabilitas yang kuat dengan valuasi yang menarik untuk dicermati," ujarnya, mengutip sosial media Instragram, dikutip Jumat (23/10/2026).
Pandu mengatakan, pesan tersebut merujuk pada sejumlah emiten yang memiliki tingkat pengembalian ekuitas tinggi dengan valuasi relatif rendah.
Pandu memaparkan, dari 146 emiten berpendapatan tahunan di atas Rp5 triliun, yang menjadi acuannya, sebanyak 61 perusahaan memiliki return on equity (ROE) di atas 15%.
Bahkan, di sektor perbankan dan konsumsi, terdapat perusahaan dengan ROE sekitar 20% serta rasio price to earnings (PE) di bawah 10 kali.
Sebagai informasi,ROE mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari modal pemegang saham. Sementara itu, rasio PE membandingkan harga saham dengan laba perusahaan, sedangkan price to book value (PBV) membandingkan harga saham dengan nilai buku ekuitasnya.
Meski demikian, Pandu menekankan bahwa indikator valuasi tersebut tidak dapat digunakan secara terpisah. Investor tetap perlu melihat kualitas bisnis dan harga saham secara bersamaan untuk menilai apakah suatu saham benar-benar menarik.
Sehingga, koreksi harga saham perlu dilihat secara lebih menyeluruh, bukan semata-mata sebagai sinyal bahwa saham telah menjadi murah.
" Peluangnya juga tersebar di berbagai sektor. Jadi intinya nih, lihat kualitas bisnis dan harganya secara bersamaan, bukan hanya sentimen pasar," tutupnya.
(rob/rob)
[Gambas:Video CNBC]
