Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan ada beberapa perusahaan perbankan siap untuk melakukan penawaran umum perdana saham alias initial public offering (IPO). Meski, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengaku tidak ingat berapa jumlah calon emiten dan enggan mengungkapkan identitasnya.
"[Bank yang mau IPO] masih ada di pipeline sekitar berapa kemarin ya. Saya lupa persisnya, tapi memang masih ada yang di pipeline. Cuma kami belum bisa mengungkapkan identitas spesifik," ujar Hasan saat ditemui selepas Rakornas TPAKD di JIExpo Kemayoran, Kamis (22/10/2026).
Hasan kemudian menegaskan bahwa animo IPO tidak menyusut. Tetapi, regulator memasang standar tinggi.
"Tapi sebetulnya minat IPO tidak berkurang. Hanya memang kami menerapkan pengetatan standar bagi para perusahaan yang bermaksud melakukan penawaran umum kepada publik," ucapnya.
Hal ini bertujuan untuk mengedepankan prinsip kualitas di atas kuantitas.
"Artinya, kita ingin menjamin bahwa perusahaan yang kemudian menawarkan sahamnya kepada publik itu setidaknya punya ketahanan dan prospek pertumbuhan ke depan yang menjanjikan," jelas Hasan.
Di sisi lain, kata dia, OJK juga ingin mengukur kualitas dari penggalangan dana yang berhasil dikumpulkan terhadap rencana-rencana pengembangan bisnis maupun peningkatan kegiatan operasional dan pengembangan perusahaan ke depan sesuai dengan prospektus yang ditawarkan.
Hal inilah yang disebutnya menjadi penyebab penurunan signifikan jumlah perusahaan yang baru melakukan IPO.
"Tapi kalau dilihat sahamnya, pergerakannya sejak IPO berbeda dengan periode-periode sebelumnya bahkan harga-harga sahamnya juga masih relatif dapat bertahan sesuai dengan harga yang wajar," papar Hasan.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]
