Jakarta,CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka melemah pada perdagangan Senin (19/10/2026). Indeks acuan bursa RI tersebut mengawali sesi I hari ini terkoreksi 0,33% ke level 4.980,16 atau turun 16,45 poin poin dibandingkan penutupan perdagangan kemarin.
Meski demikian, sepuluh menit pasca pasar dibuka indeks malah berbalik arah melesat tajam hingga naik lebih dari 2% dan kembali ke level 5.100 dengan titik tertinggi di awal sesi berada di level 5.129.
Kenaikan ini terjadi setelah ramai-ramai emiten di bursa mengumumkan aksi buyback, serta keterangan dari SRO, regulator hingga pemerintah yang kompak mau berbenah menyelesaikan permasalahan pasar modal.
Sebelumnya IHSG sempat terkoreksi dalam imbas kabar MSCI. Diketahui dalam 3 hari perdagangan terakhir IHSG tercatat anjlok 946 poin (-15,93%).
Adapun total volume perdagangan tercatat 2,20 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 1,04 triliun yang berpindah tangan 40.383 kali. Sebanyak 336 saham melemah, 205 stagnan dan hanya 130 yang menguat.
Pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati langkah Bursa Efek Indonesia (BEI), pemeirntah hingga Danantara dalam merespons pengumuman MSCI, aksi pembelian kembali saham oleh sejumlah emiten konglomerat, serta arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat penegakan aturan di pasar modal.
Merespons pengumuman MSCI pekan lalu yang membuka peluang turunnya status pasar saham Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market, Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (19/10/2026) mengumumkan dua inisiatif baru. Pertama, publikasi kepemilikan saham di atas 1% akan dilengkapi informasi hubungan afiliasi pemegang saham dengan perusahaan. Kedua, seluruh saham yang masuk daftar High Shareholding Concentration (HSC) akan dikeluarkan dari perhitungan IHSG, dengan waktu efektif yang akan diumumkan segera.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyebut bobot saham HSC saat ini mencapai 18% dari IHSG. Namun, saham-saham itu tidak di-delisting dan tetap bisa diperdagangkan, serta dapat kembali masuk perhitungan IHSG jika sudah keluar dari daftar HSC. BEI juga menegaskan tidak ada sanksi tambahan bagi emiten yang masuk daftar tersebut. Langkah ini melengkapi reformasi sebelumnya, seperti pengungkapan pemegang saham di atas 1%, data investor yang lebih rinci, peningkatan ketentuan free float, dan penghapusan harga minimum Rp50.
MSCI sendiri masih menyoroti transparansi kepemilikan saham dan dugaan perdagangan terkoordinasi, serta meminta bukti penegakan aturan yang konsisten. Konsultasi reklasifikasi berlangsung hingga April 2027, dengan keputusan akhir paling lambat 30 Juni 2027. Kekhawatiran ini membuat IHSG ambles 11,57% pada Jumat (16/10/2026) dan kembali turun 3,64% ke 4.996,61 pada Senin.
Di sisi lain, Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria menyatakan Danantara siap menambah kepemilikan di saham-saham BUMN berfundamental kuat. Usai dipanggil ke Istana, Dony menilai pelemahan IHSG sebagai dinamika pasar yang wajar dan menyebut rencana demutualisasi BEI sebagai bagian dari transformasi pasar modal.
Sejumlah emiten konglomerat juga ramai-ramai mengumumkan buyback saham. Setidaknya lima emiten milik Prajogo Pangestu dan Franky Oesman Widjaja menyiapkan dana gabungan sekitar Rp4,5 triliun. Dari kubu Prajogo, BRPT, TPIA, dan BREN masing-masing menyiapkan hingga Rp1 triliun, sedangkan CUAN mengalokasikan Rp500 miliar.
TPIA menargetkan pembelian maksimal 800 juta saham (sekitar 0,92%) di rentang harga Rp1.250-Rp3.000 per saham pada 20 Oktober 2026 hingga 19 Januari 2027. Dari Grup Sinarmas, DSSA menyiapkan Rp1 triliun untuk buyback pada 19 Oktober 2026 hingga 18 Januari 2027, dengan tujuan menjaga kepercayaan investor dan mendorong harga saham agar lebih sesuai fundamental.
Presiden Prabowo Subianto turut menggelar rapat terbatas di Istana Merdeka pada Senin, dihadiri Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi. Prabowo meminta OJK bertindak lebih tegas terhadap pelanggar di pasar modal, khususnya praktik coordinated trading yang berpotensi menggerakkan harga saham secara tidak wajar. OJK berkomitmen melanjutkan reformasi untuk meningkatkan transparansi, likuiditas, dan penegakan aturan.
Menurut Friderica, penegakan hukum yang tegas diharapkan memberi efek jera dan menjaga kredibilitas pasar, terlebih jumlah investor ritel domestik kini mencapai 32,7 juta SID. Langkah OJK ini akan menjadi sorotan investor untuk menilai seberapa serius reformasi dijalankan sebelum keputusan akhir MSCI pada Juni 2027.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
