Jakarta, CNBC Indonesia - Investor miliarder Ray Dalio memperingatkan bahwa pasar saham global semakin rentan terhadap kenaikan imbal hasil obligasi. Pertumbuhan laba perusahaan yang selama ini menjadi penopang saham dinilai mulai kehilangan kekuatannya, sementara tekanan biaya pendanaan dan risiko arus kas semakin besar.
Pendiri Bridgewater Associates tersebut mengatakan, saham sejauh ini masih mampu bertahan di tengah aksi jual obligasi global karena pertumbuhan laba membuat potensi imbal hasil saham tetap menarik dibandingkan instrumen pendapatan tetap. Namun, keunggulan itu semakin menyusut.
Jika imbal hasil obligasi terus meningkat ketika harga saham sudah naik, ruang bagi pasar saham untuk menyerap tekanan suku bunga yang lebih tinggi akan semakin terbatas.
"Kita berada pada fase siklus ketika suku bunga bisa naik tanpa membuat pasar saham turun karena masih ada pertumbuhan laba dan ekspektasi imbal hasil yang cukup," kata Dalio kepada CNBC International dalam acara Milken Institute Asia Summit di Singapura, pekan lalu, dikutip Senin (12/10/2026).
"Namun, ketika bantalan itu menyusut, berarti kita memasuki fase siklus yang lebih lanjut. Dan itulah posisi kita sekarang," ujarnya.
Peringatan tersebut muncul ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS bertahan di dekat level tertinggi dalam beberapa dekade. Investor menghadapi kombinasi defisit anggaran pemerintah yang besar, inflasi yang persisten, serta kebutuhan pembiayaan investasi kecerdasan buatan (AI) yang terus meningkat.
Dalio mengatakan, pada awal siklus saat ini, saham menawarkan ekspektasi imbal hasil yang jauh lebih tinggi dibandingkan obligasi. Kondisi tersebut membantu mempertahankan minat investor terhadap saham meskipun biaya pinjaman meningkat.
Akan tetapi, kenaikan harga saham bersamaan dengan meningkatnya imbal hasil obligasi membuat keunggulan relatif tersebut semakin tipis. Perubahan valuasi ini juga mulai terlihat pada selisih imbal hasil instrumen utang berisiko terhadap obligasi acuan atau credit spread, yang menurut Dalio mulai melebar.
Laba Naik, Arus Kas Justru Tertekan
Dalio juga mengingatkan investor agar tidak hanya terpaku pada pertumbuhan laba perusahaan. Menurutnya, arus kas bebas (free cash flow) perlu menjadi perhatian utama untuk menilai kesehatan keuangan perusahaan.
Arus kas bebas merupakan dana yang tersisa setelah perusahaan membiayai kebutuhan operasional dan belanja modalnya. Jika laba meningkat tetapi investasi menyerap terlalu banyak uang tunai, perusahaan berpotensi menghadapi tekanan likuiditas.
"Saya pikir investor harus memperhatikan arus kas bebas bukan hanya laba," kata Dalio.
Ia memperkirakan laba perusahaan masih dapat membaik, tetapi arus kas bebas justru berpotensi memburuk. Kondisi tersebut menjadi penting di tengah besarnya kebutuhan investasi perusahaan, terutama untuk mengembangkan teknologi baru dan infrastruktur AI.
Investasi yang agresif dapat meningkatkan potensi keuntungan dalam jangka panjang. Tetapi, pada saat bersamaan juga menyerap dana dalam jumlah besar.
Meski demikian, Dalio tidak secara langsung memprediksi penurunan laba perusahaan ataupun koreksi pasar saham dalam waktu dekat. Menurutnya, kondisi keuangan belum cukup ketat untuk menekan kredit dan belanja secara signifikan.
Namun, perkembangan tersebut perlu dicermati. Karena, tambahnya, pengetatan kondisi keuangan dapat memengaruhi aktivitas ekonomi dan pasar modal.
Dalio Ramal Aksi Jual Obligasi Berlanjut
Selain pasar saham, Dalio memperkirakan tekanan terhadap obligasi global masih akan berlanjut. Menurutnya, pemerintah dan perusahaan kini bersaing mendapatkan pendanaan dari pasar.
Pemerintah membutuhkan pembiayaan untuk menutup defisit anggaran. Sedangkan perusahaan, menggalang dana untuk membiayai investasi teknologi dan berbagai kebutuhan bisnis.
Ketika penerbitan utang meningkat, investor harus menyerap pasokan surat utang yang semakin besar. Kondisi ini dapat menekan harga obligasi dan mendorong imbal hasilnya naik, terutama jika permintaan tidak tumbuh sebanding.
"Kita berada dalam pasar obligasi yang bearish. Menurut saya, itu cukup jelas, dan perkiraan saya tekanan tersebut masih akan berlanjut," ujar Dalio.
Kenaikan biaya pinjaman pada akhirnya dapat memaksa perusahaan dan pemerintah mengurangi kredit maupun pengeluaran. Dampaknya berpotensi merambat ke aktivitas ekonomi dan menambah tekanan terhadap pasar saham.
Untuk saat ini, pertumbuhan laba masih menjadi penopang ekuitas. Namun, Dalio menilai proses pengetatan kondisi keuangan baru memasuki tahap awal.
Peringatan tersebut menjadi pengingat bagi investor bahwa pasar saham tidak hanya dipengaruhi kinerja laba perusahaan, tetapi juga biaya pendanaan, arus kas, dan persaingan mendapatkan modal di tengah meningkatnya kebutuhan utang global.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]
