Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil memangkas penurunan secara signifikan meskipun masih berada di zona merah pada perdagangan Selasa (13/10/2026). Pada akhir sesi I, indeks berada di level 5.911,46, turun 24,68 poin atau 0,42%.
Pelemahan ini jauh lebih tipis dibandingkan awal sesi, saat IHSG sempat terkoreksi lebih dari 1,7%.
Volume perdagangan tercatat 217,03 juta lot dengan nilai transaksi Rp5.608,26 miliar.
IHSG dibuka di level 5.914,98, tetapi langsung mendapat tekanan jual sejak menit-menit awal perdagangan. Indeks sempat menyentuh titik terendah harian di 5.828,68 pada sekitar pukul 09.30 WIB, ketika koreksi mencapai level terdalam. Setelah itu, arah pergerakan berbalik. Dari level terendah tersebut, IHSG menguat sekitar 82,78 poin atau kurang lebih 1,4%, sehingga mampu kembali mendekati posisi pembukaan.
Pemulihan terjadi bertahap. IHSG mulai merangkak naik dari sekitar 5.830 menjelang pukul 10.00 WIB, lalu menembus area 5.900 setelah itu. Selama sebagian besar sesi, indeks bergerak menyamping di kisaran 5.890 hingga 5.915. Menjelang siang, penguatan berlanjut hingga IHSG mencapai titik tertinggi harian di 5.927,13. Indeks kemudian turun tipis dan berada di 5.911,46 pada data terakhir.
Setelah babak belur pada perdagangan kemarin, pasar keuangan Indonesia kemungkinan masih dihadapkan pada banyaknya tekanan hari ini.
Gonjang-ganjing mengenai MSCI, memanasnya perang hingga pertemuan Dana Moneter Internasional (IMG) akan menjadi penggerak pasar hari ini:
Berikut beberapa sentimen pasar hari ini:
1. Perkembangan Perang: Houthi Hujani Arab Saudi dengan Rudal dan Drone
Arab Saudi kembali menghadapi serangan rudal dan drone dari kelompok Houthi Yaman pada Senin (12/10/2026). Bandara Internasional Riyadh masih ditutup setelah serangan rudal pada Sabtu menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang.
Koalisi pimpinan Arab Saudi melaporkan ancaman serangan baru di tengah eskalasi konflik yang meluas dari perang Amerika Serikat (AS)-Iran. Houthi juga terus menargetkan fasilitas minyak dan infrastruktur Saudi, memicu kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi global.
Arab Saudi kembali terlibat dalam konflik Yaman untuk menekan Houthi di sekitar Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis bagi perdagangan minyak. Namun, pasukan yang didukung Riyadh masih menghadapi perlawanan di sejumlah front.
Di tengah konflik, Iran menawarkan diri menjadi mediator antara Houthi dan Arab Saudi. Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA) menyerukan penguatan kerja sama keamanan dan pertahanan negara-negara Teluk.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan Washington mempertimbangkan bergabung dengan Arab Saudi untuk menyerang Houthi. Namun, hingga kini belum ada tanda-tanda AS melancarkan operasi militer.
2. Harga Minyak Naik, Indeks Dolar Melonjak
Harga minyak dunia naik hampir US$2 per barel pada perdagangan Senin (12/10/2026). Serangan terhadap Arab Saudi memicu kekhawatiran gangguan pasokan, mengalahkan sentimen tambahan pasokan minyak setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan peningkatan ekspor diesel Rusia dan gencatan senjata Rusia-Ukraina untuk serangan terhadap infrastruktur energi.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent ditutup naik US$1,93 atau 1,8% ke level US$106,65 per barel, tertinggi sejak 15 September. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$1,89 atau 2% menjadi US$93,74 per barel.
3. Isu MSCI
Analis Phintraco Sekuritas Desy Erawati menilai, sentimen Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih membayangi pergerakan IHSG. Pasar mencermati risiko penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market, serta prospek pencabutan pembekuan sejumlah perubahan indeks MSCI yang diproyeksikan pada semester II-2027.
"Isu-isu di market masih berkaitan dengan MSCI," ujar Desy kepada CNBC Indonesia, Senin (12/10/2026).
(rob/rob)
[Gambas:Video CNBC]
