Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah dibuka stagnan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (21/10/2026).
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp17.980/US$, tidak berubah dibandingkan penutupan Selasa (20/10/2026) di posisi yang sama.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat 0,10% ke posisi 101,803.
Perhatian pasar tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan diumumkan hari ini, di tengah tekanan terhadap rupiah.
Berdasarkan hasil polling CNBC Indonesia Research terhadap 13 institusi keuangan, mayoritas responden memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,00%. Dari jumlah tersebut, 10 responden memproyeksikan kenaikan, sementara tiga lainnya memperkirakan BI Rate tetap di level 5,75%.
Jika terealisasi, langkah tersebut akan menambah rangkaian kenaikan suku bunga BI sepanjang tahun ini. Sebelumnya, BI telah menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 bps pada Mei-Juni 2026, dari 4,75% menjadi 5,75%, untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengantisipasi tekanan inflasi.
Ekspektasi kenaikan lanjutan ini tidak terlepas dari pelemahan rupiah yang sebelumnya telah menembus Rp18.000/US$ serta meningkatnya tekanan harga domestik.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi September 2026 mencapai 3,28% secara tahunan (year-on-year/yoy), meningkat dari 3,19% pada Agustus. Angka tersebut semakin mendekati batas atas sasaran inflasi BI sebesar 3,5%, meskipun inflasi inti masih relatif terkendali di level 2,84%.
Kondisi tersebut turut menjadi perhatian pelaku pasar dalam mencermati arah kebijakan moneter BI. Ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, menilai pelemahan rupiah dan meningkatnya inflasi domestik menjadi dua pertimbangan utama bank sentral dalam menentukan suku bunga.
Menurutnya, tekanan harga energi dan bahan pangan juga perlu diwaspadai karena berpotensi meningkatkan biaya produksi dan transportasi. Namun, dengan inflasi yang masih berada dalam sasaran BI, Juniman menilai tekanan terhadap rupiah menjadi tantangan yang lebih besar bagi bank sentral dalam mengambil keputusan kali ini.
(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]
