Jakarta, CNBC Indonesia - Nama dana kekayaan negara Singapura, GIC dan Temasek, tengah mengemuka di tengah ancaman penyedia indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk menurunkan klasifikasi bursa Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market.
Mantan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi melalui unggahan media sosial pada 20 Oktober lalu menyebut kedua investor tersebut memaksa MSCI untuk mempertimbangkan menurunkan peringkat Indonesia. Ia mengatakan penurunan peringkat dapat memicu kepanikan pasar dan menciptakan peluang untuk mengakuisisi saham Indonesia dengan harga lebih rendah.
Hal tersebut langsung direspons GIC dan Temasek yang membantah tudingan tersebut.
"Keputusan investasi kami tidak didorong oleh klasifikasi indeks atau pandangan pasar dari atas ke bawah, melainkan oleh fundamental tingkat perusahaan dan aset," tulis laman Singapura, The Strait Times dan juga The Business Times, merujuk seorang juru bicara GIC, Rabu (21/10/2026).
"Kami telah berinvestasi di Indonesia selama lebih dari 30 tahun di berbagai kelas aset dan akan terus berinvestasi di mana kami menemukan peluang yang baik, dari bawah ke atas, dan disesuaikan dengan risiko," tambahnya.
Pihak Temasek Global Investments mengatakan tuduhan tersebut tidak berdasar. Bahkan, dikatakannya, jelas-jelas tidak benar.
"Tidak seorang pun dari Temasek, baik institusi maupun individu yang bekerja untuk institusi tersebut, pernah menghubungi MSCI untuk mempengaruhi keputusan apa pun yang mereka buat terkait pertukaran apa pun di wilayah ini," kata kepala Asia Pasifik kecuali China dan India, Fock Wai Hoong, dimuat laman yang sama.
Sepak Terjang Temasek
Temasek merupakan perusahaan investasi global yang berkantor pusat di Singapura. Berdiri pada 1974, perusahaan ini awalnya dibentuk untuk mengambil alih dan mengelola berbagai aset serta perusahaan yang sebelumnya dimiliki pemerintah Singapura. Kini, Temasek memiliki portofolio investasi yang terdiversifikasi dengan nilai mencapai S$518 miliar per 31 Maret 2026.
Dengan jaringan 13 kantor di sembilan negara, investasi Temasek tersebar di berbagai wilayah, sektor industri, tahap investasi, serta tingkat likuiditas aset. Perusahaan ini mengembangkan portofolio yang seimbang sebagai bagian dari strategi investasinya di pasar global.
Mengutip informasi dari laman resminya, pembentukan Temasek tidak terlepas dari perjalanan ekonomi Singapura setelah meraih kemerdekaan pada 1965. Tiga tahun kemudian, Inggris mengumumkan percepatan penarikan pasukan militernya dari negara tersebut, yang ditargetkan rampung pada 1971.
Keputusan itu menjadi tantangan besar bagi perekonomian Singapura karena aktivitas yang terkait dengan keberadaan militer Inggris dan industri pendukungnya menyumbang sekitar seperlima kegiatan ekonomi negara tersebut.
Untuk mengantisipasi dampaknya, Singapura mempercepat pelatihan ulang tenaga kerja guna menyiapkan masyarakat menghadapi lapangan pekerjaan baru. Pemerintah juga mendorong industrialisasi dan investasi, termasuk mengalihfungsikan galangan kapal militer Inggris serta bengkel elektronik menjadi perusahaan rintisan dan usaha komersial.
Berbagai langkah tersebut membantu Singapura mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 12% pada 1971, sekaligus menghindari potensi krisis ekonomi akibat penarikan pasukan Inggris.
Dalam proses transformasi tersebut, pemerintah Singapura kemudian menghadapi persoalan mengenai pengelolaan perusahaan dan aset komersial yang dimilikinya. Pada 1972, Goh Keng Swee, yang pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan pertama Singapura dan saat itu menjadi Menteri Pertahanan, mengkritik anggapan bahwa politisi dan birokrat dapat menjalankan fungsi kewirausahaan secara efektif.
Pandangan tersebut turut membentuk gagasan untuk memisahkan fungsi pemerintahan dari pengelolaan bisnis.
Setelah mengubah sejumlah fasilitas militer dan pangkalan angkatan laut peninggalan Inggris menjadi aset komersial, pemerintah Singapura memiliki beragam perusahaan yang perlu dikelola secara profesional. Pemerintah menilai pengoperasian bisnis seharusnya tidak menjadi tugas utamanya, yang lebih berfokus pada penyusunan kebijakan dan regulasi.
Atas dasar prinsip tersebut, Temasek didirikan pada 1974 untuk mengambil alih kepemilikan sekitar 35 perusahaan dan berbagai investasi milik pemerintah. Dalam pidato peringatan 40 tahun Temasek pada 2014, Presiden Singapura saat itu, Tony Tan Keng Yam, menegaskan bahwa pembentukan perusahaan tersebut didasarkan pada pemisahan antara peran pemerintah dan pengelolaan usaha komersial.
Pendirian Temasek memungkinkan pemerintah berkonsentrasi pada fungsi pembuatan kebijakan dan pengaturan, sementara pengelolaan perusahaan yang dimiliki negara diserahkan kepada entitas investasi tersendiri. Dengan demikian, pemerintah tetap menjadi pemegang saham tanpa harus terlibat langsung dalam operasional bisnis sehari-hari.
Temasek juga ditetapkan sebagai entitas Fifth Schedule, yang memiliki tanggung jawab konstitusional untuk melindungi cadangan masa lalu Singapura (past reserves). Status ini menegaskan perannya sebagai penjaga kekayaan negara sekaligus memperkuat prinsip pemisahan antara kewenangan pemerintah sebagai regulator dan posisinya sebagai pemilik perusahaan komersial.
Mengenal GIC
GIC merupakan salah satu lembaga investasi utama Singapura yang bertugas mengelola sebagian besar aset keuangan pemerintah, terutama cadangan devisa negara. Berdiri sejak 1981, lembaga ini menjalankan mandat investasi jangka panjang dengan tujuan menjaga sekaligus meningkatkan daya beli internasional dari dana yang dipercayakan kepadanya.
GIC merupakan satu dari tiga entitas yang mengelola cadangan Singapura, bersama Monetary Authority of Singapore (MAS) dan Temasek. Ketiganya memiliki peran dalam pengelolaan kekayaan negara, dengan hasil investasi yang turut memberikan manfaat bagi masyarakat Singapura.
Mengutip informasi dari laman resminya, salah satu kontribusi investasi tersebut disalurkan melalui Net Investment Returns Contribution (NIRC), yakni kontribusi dari hasil investasi yang digunakan untuk mendukung anggaran pemerintah.
Untuk tahun fiskal 2026, kontribusi NIRC diperkirakan mencapai S$28,5 miliar. Dana ini memungkinkan pemerintah Singapura membiayai berbagai kebutuhan sekaligus mempertahankan investasi jangka panjang, antara lain di sektor pendidikan, penelitian dan pengembangan (R&D), layanan kesehatan, serta peningkatan kualitas lingkungan fisik.
GIC didirikan atas gagasan Goh Keng Swee, yang saat itu menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri sekaligus Ketua MAS. Sejak awal, GIC dirancang untuk mengelola kekayaan negara dengan orientasi jangka panjang, bukan semata-mata mengejar keuntungan dalam waktu singkat.
Dalam menjalankan tugasnya, GIC berada di bawah mandat pemerintah Singapura yang diwakili Kementerian Keuangan.
Untuk mengelola dana, GIC menerapkan strategi diversifikasi melalui tiga kelompok aset utama, yakni ekuitas, pendapatan tetap, dan aset riil. Portofolio ini mencakup investasi di pasar publik maupun privat, dengan eksposur terhadap faktor pertumbuhan, pendapatan, dan inflasi.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]
